Yeah, akhirnya aku kembali ke rumah setelah bermalam untuk kedua kalinya di rumah Deavy Anggita Stefany Simanjuntak sahabatku. Sayang sekali kami tak bertemu penggentayang baik di rumahnya maupun di jalanan. Padahal hari itu malam jumat (mungkin kliwon). Icha, deavy, dan Mr.Wenwen, guru bahasa Inggris kami yg selama mengajar sibuk mengendus2 bau2an. Mereka memang sangat sensitif dan percaya dengan hal2 seperti itu. Katanya sih itu bau kembang 7 rupa atau sesajenan yg memang sudah sering dipasang di sepanjang Jalan Seduduk Putih yang terkenal keangkerannya.
Di rumahnya Deavy sering diganggu hantu. Tapi sekarang ia sudah kebal. Menrut penglihatan mantan suaminya, KGS Muhamad Perdana a.k.a Danna da Streetballer, rumah itu memang buanyak sekali jin n d gank dan sebelum dibangun rumah nan megah merupakan bekas praktek ilmu hitam. Yiuk. Yiha. Sering pada malam hari Deavy mendengar bunyi klereng di bawah tempat tidurnya (tuyul konon suka bermain kelereng). Deavy juga pernah menangkap beberapa foto putih di kamarnya. Penah juga lemari antik di kamarnya yg terkunci terbuka tiba2 saat tengah malam saat ia sedang menonton TV. Dan katanya kursi goyang di kamarnya sering bergoyang sendiri pukul 2 malam. Mama Dormaida a.k.a Mama Fergie Fergalicious juga pernah dilempar pena dari ventilasi kamar Deavy saat sedang menyiram tanaman di halaman depan kamar Deavy. Amanda teman sekelas Deavy pernah juga menelpon Deavy dan dijawab seseorang yg bersuara seperti Deavy tapi hanya diam dan bicara tak jelas padahal Deavy tidak merasa pernah mengangkat telponnya. Yiuk. Yiha.
Malam minggu kemarin aku, Priska, Icha, Yoshi menginap di rumah Deavy. Malamnya kami tertidur tanpa perlawanan. Tapi Priska a.k.a Waroka masih bertahan sms-an dgn Bang DJ hingga tengah malam. Dan tak dinyana Priska mendengar bunyi kretek2 dari kamar mandi sbelah kasur. Sontak ia terkejut dan memaksakan diri tidur. Esoknya kami pulang tanpa mendapat pengalaman apa2, tapi Icha masih tahan menginap. Dan esoknya di sekolah ia sakit, terpucat2, lemas, dsb. Menurut guru agama kami Bu Ludovica a.k.a Endang Sulistyowati ia diikuti roh2 pengganggu. Ternyata sewaktu sore2 di rumah Deavy ia membuka tutup sumur di belakang rumah yg menurut Deavy agak berbahaya.Yiuk. Yiha.
Tapi tadi malaM aku dan Quina tak bertemu apapun, padahal malam2 kami belajar di meja makan yg dekat dgn sumur. Pas jalan2 malam ke PTC pun kami hanya mengalami gangguan kacangan seperti lampu jalan yg mati setiap kami lewat dan hidup kembali saat kami jauh. Dan itu terjadi 2 kali pulang pergi. Yiuk. Yiha
1 comment:
Luar binasa!!
Itu rumah yang deket pepohonan dan tempat sampah bukan ya?
Post a Comment