Sunday, September 30, 2007

Black Parade

Sebagai manusia, kita semua pasti punya mimpi dan cita-cita. Apalagi bagi anak-anak seumuran saya yang begitu terbuai dengan asa dunia. Kasarnya, kami masih setengah melek. SMA belum lulus, kuliah masih agak jauh, apalagi dunia kerja.

Kalau ditanya mimpi, saya akan menjawab: punya suami ganteng dan kaya, anak 4 cowok semua, jalan2 ke Paris dan bisa makan dan tidur melulu tanpa menjadi gemuk. Oh ya! Yg paling penting, mimpi saya adalah punya singa yg imut dan ganteng.. Ahahay.. Tapi kalau ditanya cita-cita, akan lain lagi ceritanya. Sampai sekarang saja saya belum tahu pasti mau kuliah di jurusan apa. Saya pengennya sih Hubungan Internasional. Dengan ini peluang saya untuk jalan-jalan ke luar negri bisa tercapai. Tapi kok rasanya agak jauh di angan-angan ya? Saya juga nggak tahu kenapa. Kalau saya kerja di kedutaan, susah dong buat menikah dsb. Saya juga nggak bisa memenuhi cita-cita saya dgn teman2 saya di Indonesia. Pilihan kedua adalah Hukum. Terserah jadi apa saja, semuanya oke. Saya juga pengen kerja bareng Margaretha Quina yg saya yakin saat dia besar nanti, dia pasti jadi pengacara hebat dan populer. Yang ketiga adalah bisnis/manajemen/ekonomi/semacamnya. Saya pengen BISNIS KEMBANG!!!!!!!! Ntah kenapa saya juga nggak tau.

Nah, mengulik pembahasan bareng Quina dan Budi (personil Dudasjandas,,ulala) selama sekitar 6 jam di Yahoo Messenger, mulai dari pembicaraan tentang dudasjandas, musibah lalu-lintas, miyabi, hentai, mafia tuki eropa, cewek2 eksotis idaman Budi, kerja keras ibu Endang, maling, bla-bla-bla hingga masa depan, kini kami punya misi, yaitu apa yg disebut Budi sbg Lembaga Orang Tak Beruntung atau yg disebut Quina dgn Black Parade (oh God..). Kami pengennya sih kuliah di tempat yg sama, dan harus temenan sampai tua. Kami HARUS MENCARI MODAL SEBANYAK-BANYAkNYA (kalau bisa morotin duit suami yg tajir) untuk mendirikan Black Parade ini. Kami peduli dengan bangsa ini. Kami mau apa yang kami kerjakan di masa depan berguna bagi Indonesia (ehm2). Saya dan Quina yg sudah lama bercita-cita memajukan bangsa ini kini tanpa disangka menemukan 1 bibit baru, Budi sang drummer kami.

Budi bingung mau kuliah apa nanti. Bisnis bus yg dimulai dari nol oleh ibunda Endang ternyata tidak mengambil hatinya. Budi ingin jadi dokter sesuai cita-cita keluarganya. Ternyata Budi punya mimpi, yaitu mendirikan Panti Jompo. Sedangkan Quina si slebor dangduter yg Calon Pengacara itu ingin membuat Panti Asuhan. Sedangkan saya sendiri ingin mendirikan sekolah berkualitas bagi anak tidak mampu khususnya anak jalanan. Budi juga ingin membuka klinik yg murah tapi oke punya utk org tdk mampu. Tapi menurut pandangan cemerlang Quina, alangkah baiknya apabila kami berkonsentrasi ke pencerdasan orang miskin, bukan sekedar pemanjaan orang miskin. Bagus banget kan?? (oh Quina beibeh...)

Akhirnya kami sedikit berhasil menyimpulkan misi sosial kami:

1. Sekolah berkualitas, yg tdk seperti Indonesia (bahkan Bangau) yg notabene tdk tdk memberikan solusi bertahan hidup. Itu istilah saya.

2. Perpustakaan keren nan imut.

3. Panti Jompo.

4. Panti Asuhan.

5. LBH (Lembaga Bantuan Hukum). Awalnya saya tdk tahu apa itu LBH, lamban ya..

6.

Mungkin ini terlihat klise dan berlebihan untuk beberapa orang. Tapi ya yg namanya cita-cita,,mau dibuang justru bakal jadi penyesalan.. Yang penting punya niat dan usaha (plus keberuntungan ekstra). Semoga saya dan Quina dapet suami kaya, ya.....

No comments: